0
Rp0.00
  • An empty cart

    You have no item in your shopping cart

Berkarier sebagai Chef, Why Not ?

14 Apr

Beberapa tahun terakhir, banyak chef Indonesia yang viral karena kepawaiannya dalam mengolah masakan. Beberapa di antaranya bahkan juga menjadi idola karena kecantikan dan ketampanannya, seperti chef Juna, Reynold, Farah Quinn, Renatta, Marinka, Arnold, dan lain – lain.

Berkarier sebagai seorang chef menjadi trend dan salah satu pilihan menjanjikan bagi banyak anak muda. Sekolah – sekolah kuliner ( culinary schools ) banyak bermunculan di banyak kota besar di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Hal ini tidak terlepas dari peranan salah satu program televisi yang berasal dari Inggris, MasterChef . Tujuannya untuk mencari bakat – bakat baru di bidang kuliner dari koki amatir maupun rumahan. Dikemas dengan apik dan ditayangkan melalui jaringan Fox TV sejak tahun 2010, MasterChef mampu menarik jutaan pemirsa di seluruh dunia. Begitu banyak peminatnya sehingga MasterChef menjadi salah satu program favorit di banyak negara dan menjadi sebuah franchise program. Ini pun membuat karier chef semakin dikenal dan menjadi trend di kalangan muda.

Sekolah Vs Skill

Banyak orang memiliki skill masak yang mumpuni. Bahkan mungkin sebagian orang jago meracik bumbu maupun memasak lebih daripada chef hotel bintang lima. Lihat saja di sekeliling kita, rumah makan, depot, resto, apalagi yang tergolong ‘legendary’ resto, tukang masaknya mungkin bukan seorang professional chef. Tapi skill memasaknya apalagi rasa masakannya tidak diragukan lagi. Yang beli ngantrinya panjaaaanggg…

Image by Pinterest

Kebanyakan tukang masak di rumah makan atau legendary resto jago memasak karena otodidak, trial error, dan pengalaman. Mereka mungkin belajar dari resep atau skill yang diajarkan turun temurun, dikembangkan, modifikasi, dan akhirnya menjadi mahir. Banyak tukang masak / koki resto juga menjadi owner dari resto / rumah makan tersebut. Sehingga kemampuan manajemen otomatis terasah dari pengalaman yang sudah dilalui.

Menjadi seorang professional chef butuh sekolah. Butuh mempelajari banyak hal seputar makanan dari A to Z. Mulai dari pengenalan bahan makanan, cara mempersiapkan, memotong, mengiris, cara menyimpan makanan yang benar, mengenal fungsi dan karakteristik alat masak, bedanya fry pan dan wok, jenis spatula, mengolah masakan, hingga ke tampilan masakan saat disajikan.

Seorang professional chef juga harus memahami manajemen resto termasuk pengelolaan keuangan. Bagaimana mengkoordinir chef lain yang menjadi team / staffnya, manajemen waktu, biaya, hingga ke variasi menu. Chef profesional juga harus bisa menggunakan bahan yang ada / terbatas untuk berkreasi. Selain itu, table manner, hospitality, marketing, hingga membuat business plan harus juga dikuasai oleh seorang chef professional.

Di culinary school, karier chef dikembangkan. Pilihan kariernya pun cukup banyak seperti : resto / cafe owner, resto manager, hotel / resto chef, resto consultant, food stylist, menu creator, food blogger, dan cooking instructors.

Itulah mengapa selain butuh skill yang mumpuni, menjadi seorang professional chef butuh sekolah.

Lalu, apakah culinary school bagi seorang chef masih diperlukan ?

Tergantung. Jika anda sudah menguasai semuanya secara otodidak dan berhasil, bisa dipastikan culinary school tidak dibutuhkan lagi.

Karier Chef

Berkarier sebagai seorang chef saat ini menjanjikan kesejahteraan sekaligus ketenaran. Tidak terhitung berapa banyak chef yang sukses dari masakan yang dihasilkannya atau dari resto yang dikelolanya. Banyak juga chef yang menulis buku, menjadi vlogger atau blogger terkenal, menjadi juri lomba masak, dan lain – lain.

Celebrity chefs apalagi. Selain terkenal karena sering tampil di acara televisi maupun off air events dengan bayaran fantastis, celebrity chefs banyak sumber penghasilan lainnya. Misalnya dari product endorse, penjualan merchandise, dan iklan. Sehingga bisa dipastikan nama – nama terkenal seperti chef Gordon Ramsay, Jamie Oliver, Martha Stewart, dan lain – lain memiliki pundi – pundi kekayaan yang begitu fantastis dari kariernya sebagai seorang chef. Jika ingin tahu lebih banyak mengenai kekayaan celebrity chefs bisa dibaca disini.

Chef Reynold Purnomo. Image by Kinan’s

Di sisi lain banyak chef yang menorehkan prestasi dari resto yang dikelolanya. Ada yang bahkan telah memperoleh Michelin Stars beberapa kali. Michelin Star adalah penghargaan tertinggi di bidang kuliner yang diberikan kepada restaurant yang telah diakui secara internasional kualitasnya. Di Indonesia sendiri ada beberapa restaurant yang sudah memperoleh Michelin Stars.

Beberapa resto dengan Michelin Stars butuh reservasi bahkan berbulan – bulan sebelumnya. Harga makanannya pun selangit. Contohnya di michelin star resto Per Se – New York City yang mencharge USD 340 sekali makan atau di resto SubliMotion – Ibiza dengan USD 1.761, luar biasa bukan ? Itu pun belum tentu kenyang : ) karena yang dipentingkan adalah kualitas bukan kuantitas.

Hirarki Chef

Seperti halnya dalam 1 departemen / divisi, terdapat juga hirarki atau struktur organisasi di dapur. Yang tertinggi biasanya disebut Executive Chef. Lalu diikuti oleh Head Chef, Sous Chef, dan Chef de Partie.

Untuk Chef de Partie biasanya juga disebut Station Chef atau Line Cook. Peranannya sangat vital karena merupakan kepala untuk bagian / divisi tertentu. Dapur yang besar biasanya memiliki beberapa Line Cook yang membawahi masing – masing bagian misalnya saucier, fry chef, grill chef, roast chef, pantry chef, dan lain – lain.

Dunia kuliner sangat menarik. Banyak hal yang tertuang dalam satu piring makanan. Ada rasa, aroma, memori, budaya, nilai, kebanggaan, dan perasaan. Oleh sebab itu, menjadi seorang chef professional bukan hanya sekedar hobby dan bisa masak, tetapi perlu integritas dan komitmen. Tertarik ?

MSG Tidak Baik Bagi Tubuh. Betulkah Demikian ?

Author: Asta & You

Apa Yang Dibutuhkan Waktu Piknik Saat Pandemi ?

Serupa Tapi Tak Sama, Junk Food vs Fast Food

Author: Asta & You

Leave your thought