0
Rp0.00
  • An empty cart

    You have no item in your shopping cart

MSG Tidak Baik Bagi Tubuh. Betulkah Demikian ?

19 Oct

Bertahun – tahun menjadi perdebatan. Sering disalahkan menjadi penyebab dari berbagai penyakit. MSG ( monosodium glutamate ) dibutuhkan tapi sekaligus ‘dihindari’. Mengapa demikian ?

Sering kita mendengar, “makanannya banyak micin, bikin haus, hati – hati jangan terlalu banyak vetsin, bikin bodoh”, dan sebagainya. Hingga ada istilah generasi micin, sebutan bagi orang yang melakukan tindakan konyol atau diluar nalar. Apakah benar MSG sedemikian tidak baiknya bagi tubuh ? Atau malah sebaliknya ?

Asal Usul

Micin, mecin, vetsin, flavour enhancer, seasoning, serbuk perasa, atau penyedap rasa, adalah sebutan yang sama untuk MSG. Beberapa nama ilmiah lain untuk MSG bisa juga dibaca disini. Seperti yang diketahui, penyedap rasa / vetsin sangat umum dan sering digunakan dalam memasak. Biasanya berupa serbuk kristal berwarna putih, meskipun ada juga yang berbentuk cair.

Banyak orang, rumah tangga, food outlets, hotel, rumah makan, maupun restaurant menggunakannya. Tentu saja, tujuannya untuk meningkatkan atau menguatkan cita rasa masakan.

Di Indonesia, kita mengenal beberapa merek micin yang terkenal seperti Ajinomoto, Miwon, dan Sasa. Kebanyakan diproduksi menggunakan tebu, singkong, jagung, gandum, beras, dan sagu. Kemudian difermentasi hingga menjadi asam glutamat, dan selanjutnya dimurnikan menjadi kristal MSG yang sering kita gunakan.

Monosodium glutamate ( MSG ) pertama kali ditemukan oleh professor kimia dari University of Tokyo, Kikunae Ikeda, pada tahun 1970. Disebut umami, dan dikenal sebagai rasa dasar ( basic taste ) yang kelima selain pahit, asin, manis, dan asam. Umami berasal dari bahasa Jepang yang mewakili rasa gurih pada makanan.

Kandungan MSG dan Batas Penggunaannya ?

Secara ringkas, micin adalah kombinasi dari sodium dan glutamat. Merupakan asam amino yang banyak terdapat di alam dan pada bahan makanan lainnya seperti tomat, keju, sosis, frozen food, makanan kaleng, dan lain – lain.

Garam tidak sama dengan MSG. Garam adalah sodium chlorida berasa asin, sedangkan MSG adalah sodium glutamat berasa umami. Kandungan sodium pada garam lebih tinggi daripada MSG. Dan seperti yang diketahui, konsumsi sodium berlebih bisa meningkatkan resiko darah tinggi, penyakit jantung, dan stroke.

Sebagai salah satu bahan tambahan pangan, batas penggunaan micin juga diatur. BPOM misalnya, dalam peraturan BPOM nomor 23 tahun 2013 menyatakan bahwa batas konsumsi MSG yang aman adalah 10 mg per kilogram berat badan. Jadi misalnya berat badan 60 kg boleh mengkonsumsi sekitar 6 gram MSG. Setara kurang lebih 1 sendok teh.

Monosodium Glutamate / MSG

Di Amerika, FDA ( semacam BPOM di Amerika ) tidak menegaskan berapa konsumsi maksimal MSG dalam makanan. Hanya saja dijelaskan bahwa manusia sehari – harinya mengkonsumsi sekitar 13 gram glutamat yang diperoleh dari makanan yang dimakannya. Sedangkan MSG tambahan diperkirakan sekitar 0.55 gram setiap harinya.

Apakah MSG Berbahaya Bagi Tubuh ?

Dalam berbagai penelitan / riset yang dilakukan, belum ditemukan fakta atau bukti bahwa MSG berbahaya bagi tubuh. Kasus yang terjadi seperti sakit kepala, kulit kemerahan, berkeringat, dan sebagainya, atau dikenal juga dengan sebutan Chinese Restaurant Syndrome, lebih dikaitkan dengan tingkat penerimaan tubuh seseorang terhadap micin.

Micin bisa menyebabkan alergi pada seseorang yang sensitif terhadapnya. Sama seperti ikan, udang, telur, ayam, atau makanan lainnya yang bisa menimbulkan reaksi berlebih / alergi saat dikonsumsi oleh orang tertentu.

FDA juga menegaskan bahwa MSG tergolong sebagai GRAS ( Generally Recognized As Safe ), artinya aman untuk dikonsumsi. Dari laporan yang masuk mengenai kecurigaan terkait gangguan kesehatan akibat MSG, FDA juga telah melakukan pengecekan dan riset independen dengan FASEB. Dan hasilnya, MSG dinyatakan aman. Ahli gizi di Indonesia juga menyatakan hal serupa. Detailnya bisa dibaca disini dan disini.

Beberapa orang bahkan lebih memilih menggunakan MSG daripada garam, untuk mengurangi kadar natrium ( sodium ) dalam makanan. Karena kandungan sodium dalam garam lebih tinggi daripada MSG.

Selain itu, dari riset ilmiah yang dilakukan oleh Prof Shigeru Yamamoto, menambahkan micin dan mengurangi konsumsi garam pada makanan lansia, bisa meningkatkan nafsu makannya. Nafsu makan yang meningkat membuat produksi saliva ( air liur ) bertambah. Hal ini membantu proses mengunyah dan menelan pada lansia. Karena banyak makan makanan bergizi, kekebalan tubuh dan kesehatan lansia pun meningkat. Oleh sebab itu, peran MSG dalam hal ini sangat baik.

Kesimpulan

Hingga saat ini belum ditemukan bukti / fakta bahwa MSG berbahaya bagi tubuh. Sebagian orang yang mengkonsumsi micin dan mengalami gejala / efek samping dikategorikan sebagai reaksi alergi. Kadar sodiumnya juga lebih rendah dari garam.

Jadi, bisa disimpulkan bahwa MSG tidak berbahaya bagi tubuh. Akan tetapi, menggunakan micin / vetsin secara berlebih tentu tidak baik dan tidak perlu. Oleh sebab itu, gunakanlah micin sesuai kebutuhan agar cita rasa masakannya lebih optimal dan meningkatkan nafsu makan. Selain itu, ingatlah selalu untuk memperhatikan peralatan masak / dapur anda agar selalu terjaga baik dan aman digunakan.

“Kesehatan tidak ternilai harganya. Pastikan anda membeli atau menggunakan peralatan masak yang baik dan berkualitas untuk keluarga tercinta”

Bosan Birthday Cake Biasa, Korean Cake Solusinya

Ternyata Ini Fungsi Label Pada Kemasan Makanan

Apa Yang Dibutuhkan Waktu Piknik Saat Pandemi ?

Leave your thought